Rabu, 22 Maret 2017

Istana Ikut Berduka Peserta Aksi Cor Kaki Meninggal

JAKARTA - Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya Patmi (48), warga Kendeng yang mengikuti aksi mengecor kaki untuk memprotes pembangunan pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah.
”Ya tim saya udah bantu urus ya. Berduka cita, jantung ya, kemungkinan juga faktor capek ya. Tapi ya memang kita imbaulah kalau mau menyampaikan pendapat, aspirasi, jangan aksinya mengambil risiko pada keselamatan,” kata Teten di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (21/3). Patmi sempat mengeluh sakit dan dibawa ke Rumah Sakit St Carolus dini hari tadi.
Rumah Sakit St Carolus menyatakan bahwa Patmi meninggal dunia sekitar pukul 02.55 karena serangan jantung. ”Tadi Pak Presiden sudah minta kami untuk mengurus kepulangannya, tapi tadi sudah diurus,” katanya. Istana juga menjanjikan pemberian santunan kepada keluarga Patmi.
”Iya, nanti diberikan santunan juga ya,” kata Teten. Sementara itu, koalisi berbagai lembaga masyarakat peduli Pegunungan Kendeng, Koalisi Untuk Kendeng Lestari (KUKL), memastikan perjuangan masyarakat tidak akan surut menyusul meninggalnya Patmi.
”Yang terjadi hari ini tak akan menyurutkan semangat masyarakat Kendeng, malah memperkuat solidaritas untuk perjuangan ini,” kata salah seorang juru bicara KUKL yang juga Direktur Eksekutif Yayasan Desantara, Mokhamad Sobirin, dalam konferensi pers terkait kelanjutan aksi Kendeng menyusul meninggalnya mendiang Patmi di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta, kemarin.
Pasalnya, lanjut Sobirin, masyarakat Kendeng meyakini bahwa apa yang mereka lakukan bukan hanya berkaitan dengan kelangsungan hidup mereka, yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan memanfaatkan Pegunungan Kendeng sebagai sumber pengairan, tetapi juga soal kelestarian lingkungan setempat. ”Ini bukan konflik lahan tetapi upaya penyelamatan lingkungan,” kata Sobirin.
Hal senada juga disampaikan pegiat Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Eko Arifianto yang mengingatkan bahwa setiap orang pada akhirnya akan meninggal namun semua diberi pilihan mati dalam keadaan membela alam atau malah melukai alam.
Patmi, lanjut Eko, merupakan salah satu yang memilih meninggal dalam keadaan membela ibu pertiwi. ”Kita semua pasti akan mati, cuma kita yang memilih jalan kematian mana yang kita mau. Mati dalam perjuangan mencintai ibu pertiwi atau melukai ibu pertiwi,” kata Eko. Oleh karena itu, Eko berharap kematian Patmi menjadi momentum kemunculan dan pertumbuhan bunga-bunga perlawanan dari masyarakat terhadap kesewenangan pemerintah yang tak mengindahkan rakyat dalam perencanaan pembangunan.
Langsung Dikebumikan
Jenazah Patmi tiba di Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati sekitar pukul 20.00 semalam. Setelah tiba di rumah duka, jenazah Patmi langsung didoakan dan dikebumikan. Sri Utami, anak korban, menuturkan, sebelum berangkat Patmi hanya berpesan agar dirinya merawat sawah agar padinya tidak puso. ”Ibu hanya pamit berangkat untuk berjuang,” ujar Sri Utami dengan menahan isak tangisnya. Meski ibunya telah gugur namun Sri Utami mengaku telah mengikhlaskannya.
Baginya itu bentuk pengabdian ibunya untuk pegunungan Kendeng. Bahkan dia juga mengaku akan tetap berdoa agar perjuangan membela Kendeng dapat tetap lestari. ”Ibu saya selalu mengajarkan kalau apa yang dilakukannya tidak lain kecuali untuk anak cucunya. Ibu saya begitu ikhlas untuk Pegunungan Kendeng,” tambahnya. Patmi meninggalkan Rosyad, suaminya, dan dua orang anak yakni Sri Utami (29) dan Muhamadun Daiman (22) serta seorang cucu bernama Syifa (3,5) tahun.
Terpisah, warga asli Rembang yang mengatasnamakan dirinya sebagai Laskar Brotoseno turut berbelasungkawa atas meninggalnya Patmi yang bergabung dalam aksi penolakan dibangunnya pabrik semen. Sedangkan para warga dalam wadah Laskar Brotoseno sendiri, yang notabene merupakan warga Ring 1 dan tinggal di lima desa yang berbatasan langsung dengan lokasi pabrik, justru menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap berdirinya pabrik semen di Rembang.
”Pada kesempatan ini kami menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya saudara kami, Ibu Patmi, saat ikut demo menolak pabrik (semen) Rembang. Kami turut berduka cita,” ujar Koordinator Laskar Brotoseno, Anis Maftuhin, di Jakarta. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Patmi (48), salah satu peserta aksi semen kaki. Ganjar berharap tidak ada lagi aksi protes yang membahayakan nyawa.
”Saya menyampaikan belasungkawa, mudah-mudahan khusnul khatimah. Ini pelajaran buat kita semua,” kata Ganjar di Desa Kluwih, Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa

Sumber Berita : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/istana-ikut-berduka/